YUK BELAJAR

Rabu, 08 September 2010

di ambil dari : http://www.mail-archive.com/assunnah@yahoogroups.com/msg09285.html
Thu, 15 Jun 2006 11:08:47 -0700
Written by Administrator

Saturday, 02 October 2004
Demi Allah, tidaklah benci kepada Ibnu Taimiyah melainkah orang yang bodoh atau
pengikut hawa nafsu. Qodhinya para qadhi Abdul Bar As-Subky

NAMA DAN NASAB

Beliau adalah imam, Qudwah, 'Alim, Zahid dan Da'i ila Allah, baik dengan kata,
tindakan, kesabaran maupun jihadnya; Syaikhul Islam, Mufti Anam, pembela
dinullah daan penghidup sunah Rasul shalallahu'alaihi wa sallam yang telah
dimatikan oleh banyak orang, Ahmad bin Abdis Salam bin Abdillah bin Al-Khidhir
bin Muhammad bin Taimiyah An-Numairy Al-Harrany Ad-Dimasyqy. Lahir di Harran,
salah satu kota induk di Jazirah Arabia yang terletak antara sungai Dajalah
(Tigris) dengan Efrat, pada hari Senin 10 Rabiu'ul Awal tahun 661H.

Beliau berhijrah ke Damasyq (Damsyik) bersama orang tua dan keluarganya ketika
umurnya masih kecil, disebabkan serbuan tentara Tartar atas negerinyaa. Mereka
menempuh perjalanan hijrah pada malam hari dengan menyeret sebuah gerobak besar
yang dipenuhi dengan kitab-kitab ilmu, bukan barang-barang perhiasan atau harta
benda, tanpa ada seekor binatang tunggangan-pun pada mereka.

Suatu saat gerobak mereka mengalami kerusakan di tengah jalan, hingga hampir
saja pasukan musuh memergokinya. Dalam keadaan seperti ini, mereka
ber-istighatsah (mengadukan permasalahan) kepada Allah Ta'ala. Akhirnya mereka
bersama kitab-kitabnya dapat selamat.

PERTUMBUHAN DAN GHIRAHNYA KEPADA ILMU

Semenjak kecil sudah nampak tanda-tanda kecerdasan pada diri beliau. Begitu
tiba di Damsyik beliau segera menghafalkan Al-Qur'an dan mencari berbagai
cabang ilmu pada para ulama, huffazh dan ahli-ahli hadits negeri itu.
Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para tokoh ulama tersebut tercengang.

Ketika umur beliau belum mencapai belasan tahun, beliau sudah menguasai ilmu
Ushuluddin dan sudah mengalami bidang-bidang tafsir, hadits dan bahasa Arab.

Pada unsur-unsur itu, beliau telah mengkaji musnad Imam Ahmad sampai beberapa
kali, kemudian kitabu-Sittah dan Mu'jam At-Thabarani Al-Kabir.

Suatu kali, ketika beliau masih kanak-kanak pernah ada seorang ulama besar dari
Halab (suatu kota lain di Syria sekarang, pen.) yang sengaja datang ke
Damasyiq, khusus untuk melihat si bocah bernama Ibnu Taimiyah yang
kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan
cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu
menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan
kepadanya beberapa sanad, beliaupun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang
dan menghafalnya. Hingga ulama tersebut berkata: Jika anak ini hidup, niscaya
ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah
seperti dia.

Sejak kecil beliau hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama, mempunyai
kesempatan untuk mereguk sepuas-puasnya taman bacaan berupa kitab-kitab yang
bermanfaat. Beliau infakkan seluruh waktunya untuk belajar dan belajar,
menggali ilmu terutama kitabullah dan sunah Rasul-Nya shallallahu'alaihi wa
sallam.

Lebih dari semua itu, beliau adalah orang yang keras pendiriannya dan teguh
berpijak pada garis-garis yang telah ditentukan Allah, mengikuti segala
perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beliau pernah berkata: Jika
dibenakku sedang berfikir suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah
yang muskil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu kali atau lebih atau
kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku
lakukan baik di pasar, di masjid atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku
untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.

Begitulah seterusnya Ibnu Taimiyah, selalu sungguh-sungguh dan tiada
putus-putusnya mencari ilmu, sekalipun beliau sudah menjadi tokoh fuqaha' dan
ilmu serta dinnya telah mencapai tataran tertinggi.

PUJIAN ULAMA

Al-Allamah As-Syaikh Al-Karamy Al-Hambali dalam Kitabnya Al-Kawakib AD-Darary
yang disusun kasus mengenai manaqib (pujian terhadap jasa-jasa) Ibnu Taimiyah,
berkata: Banyak sekali imam-imam Islam yang memberikan pujian kepada (Ibnu
Taimiyah) ini. Diantaranya: Al-Hafizh Al-Mizzy, Ibnu Daqiq Al-Ied, Abu Hayyan
An-Nahwy, Al-Hafizh Ibnu Sayyid An-Nas, Al-Hafizh Az-Zamlakany, Al-Hafidh
Adz-Dzahabi dan para imam ulama lain.

Al-Hafizh Al-Mizzy mengatakan: Aku belum pernah melihat orang seperti Ibnu
Taimiyah .... dan belum pernah kulihat ada orang yang lebih berilmu terhadap
kitabullah dan sunnah Rasulullah shallahu'alaihi wa sallam serta lebih ittiba'
dibandingkan beliau.

Al-Qadhi Abu Al-Fath bin Daqiq Al-Ied mengatakan: Setelah aku berkumpul
dengannya, kulihat beliau adalah seseorang yang semua ilmu ada di depan
matanya, kapan saja beliau menginginkannya, beliau tinggal mengambilnya,
terserah beliau. Dan aku pernah berkata kepadanya: Aku tidak pernah menyangka
akan tercipta manusia seperti anda.

Al-Qadli Ibnu Al-Hariry mengatakan: Kalau Ibnu Taimiyah bukah Syaikhul Islam,
lalu siapa dia ini ?

Syaikh Ahli nahwu, Abu Hayyan An-Nahwi, setelah beliau berkumpul dengan Ibnu
Taimiyah berkata: Belum pernah sepasang mataku melihat orang seperti dia ....
Kemudian melalui bait-bait syairnya, beliau banyak memberikan pujian kepadanya.

Penguasaan Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam
tafsir, aqidah, hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan
Islam lainnya, hingga beliau melampaui kemampuan para ulama zamannya.
Al-'Allamah Kamaluddin bin Az-Zamlakany (wafat th. 727 H) pernah berkata:
Apakah ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka siapa pun yang mendengar atau
melihat (jawabannya) akan menyangka bahwa dia seolah-olah hanya membidangi
ilmu itu, orang pun akan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang bisa
menandinginya. Para Fuqaha dari berbagai kalangan, jika duduk bersamanya pasti
mereka akan mengambil pelajaran bermanfaat bagi kelengkapan madzhab-madzhab
mereka yang sebelumnya belum pernah diketahui. Belum pernah terjadi, ia bisa
dipatahkan hujahnya. Beliau tidak pernah berkata tentang suatu cabang ilmu,
baik ilmu syariat atau ilmu lain, melainkan dari masing-masing ahli ilmu itu
pasti terhenyak. Beliau mempunyai goresan tinta indah, ungkapan-ungkapan,
susunan, pembagian kata dan penjelasannya sangat bagus dalam penyusunan
buku-buku.

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (wafat th. 748 H) juga berkata: Dia adalah
lambang kecerdasan dan kecepatan memahami, paling hebat pemahamannya terhadap
Al-Kitab was-Sunnah serta perbedaan pendapat, dan lautan dalil naqli. Pada
zamannya, beliau adalah satu-satunya baik dalam hal ilmu, zuhud, keberanian,
kemurahan, amar ma'ruf, nahi mungkar, dan banyaknya buku-buku yang disusun dan
amat menguasai hadits dan fiqh.

Pada umurnya yang ke tujuh belas beliau sudah siap mengajar dan berfatwa, amat
menonjol dalam bidang tafsir, ilmu ushul dan semua ilmu-ilmu lain, baik
pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya, detailnya dan ketelitiannya. Pada sisi
lain Adz-Dzahabi mengatakan: Dia mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai
rijal (mata rantai sanad), Al-Jarhu wat Ta'dil, Thabaqah-Thabaqah sanad,
pengetahuan ilmu-ilmu hadits antara shahih dan dhaif, hafal matan-matan hadits
yang menyendiri padanya .. Maka tidak seorangpun pada waktu itu yang bisa
menyamai atau mendekati tingkatannya .. Adz-Dzahabi berkata lagi, bahwa:
Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah, maka itu bukanlah hadist.

Demikian antara lain beberapa pujian ulama terhadap beliau.

DA'I, MUJAHID, PEMBASMI BID'AH DAN PEMUSNAH MUSUH

Sejarah telah mencatat bahwa bukan saja Ibnu Taimiyah sebagai da'i yang tabah,
liat, wara', zuhud dan ahli ibadah, tetapi beliau juga seorang pemberani yang
ahli berkuda. Beliau adalah pembela tiap jengkal tanah umat Islam dari
kedzaliman musuh dengan pedangnya, seperti halnya beliau adalah pembela aqidah
umat dengan lidah dan penanya.

Dengan berani Ibnu Taimiyah berteriak memberikan komando kepada umat Islam
untuk bangkit melawan serbuan tentara Tartar ketika menyerang Syam dan
sekitarnya. Beliau sendiri bergabung dengan mereka dalam kancah pertempuran.
Sampai ada salah seorang amir yang mempunyai diin yang baik dan benar,
memberikan kesaksiannya: ...tiba-tiba (ditengah kancah pertempuran) terlihat
dia bersama saudaranya berteriak keras memberikan komando untuk menyerbu dan
memberikan peringatan keras supaya tidak lari... Akhirnya dengan izin Allah
Ta'ala, pasukan Tartar berhasil dihancurkan, maka selamatlah negeri Syam,
Palestina, Mesir dan Hijaz.

Tetapi karena ketegaran, keberanian dan kelantangan beliau dalam mengajak
kepada al-haq, akhirnya justru membakar kedengkian serta kebencian para
penguasa, para ulama dan orang-orang yang tidak senang kepada beliau. Kaum
munafiqun dan kaum lacut kemudian meniupkan racun-racun fitnah hingga karenanya
beliau harus mengalami berbagai tekanan di pejara, dibuang, diasingkan dan
disiksa.

KEHIDUPAN PENJARA

Hembusan-hembusan fitnah yang ditiupkan kaum munafiqin serta antek-anteknya
yang mengakibatkan beliau mengalami tekanan berat dalam berbagai penjara,
justru dihadapi dengan tabah, tenang dan gembira. Terakhir beliau harus masuk
ke penjara Qal'ah di Dimasyq. Dan beliau berkata: Sesungguhnya aku menunggu
saat seperti ini, karena di dalamnya terdapat kebaikan besar.

Dalam syairnya yang terkenal beliau juga berkata:

Apakah yang diperbuat musuh padaku !!!!

Aku, taman dan dikebunku ada dalam dadaku

Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamaku

dan tiada pernah tinggalkan aku.

Aku, terpenjaraku adalah khalwat

Kematianku adalah mati syahid

Terusirku dari negeriku adalah rekreasi.

Beliau pernah berkata dalam penjara:

Orang dipenjara ialah orang yang terpenjara hatinya dari Rabbnya, orang yang
tertawan ialah orang yang ditawan orang oleh hawa nafsunya.

Ternyata penjara baginya tidak menghalangi kejernihan fitrah islahiyah-nya,
tidak menghalanginya untuk berdakwah dan menulis buku-buku tentang aqidah,
tafsir dan kitab-kitab bantahan terhadap ahli-ahli bid'ah.

Pengagum-pengagum beliau diluar penjara semakin banyak. Sementara di dalam
penjara, banyak penghuninya yang menjadi murid beliau, diajarkannya oleh
beliau agar mereka iltizam kepada syari'at Allah, selalu beristighfar, tasbih,
berdoa dan melakukan amalan-amalan shahih. Sehingga suasana penjara menjadi
ramai dengan suasana beribadah kepada Allah. Bahkan dikisahkan banyak penghuni
penjara yang sudah mendapat hak bebas, ingin tetap tinggal di penjara
bersamanya. Akhirnya penjara menjadi penuh dengan orang-orang yang mengaji.

Tetapi kenyataan ini menjadikan musuh-musuh beliau dari kalangan munafiqin
serta ahlul bid'ah semakin dengki dan marah. Maka mereka terus berupaya agar
penguasa memindahkan beliau dari satu penjara ke penjara yang lain. Tetapi
inipun menjadikan beliau semakin terkenal. Pada akhirnya mereka menuntut kepada
pemerintah agar beliau dibunuh, tetapi pemerintah tidak mendengar tuntutan
mereka. Pemerintah hanya mengeluarkan surat keputusan untuk merampas semua
peralatan tulis, tinta dan kertas-kertas dari tangan Ibnu Taimiyah.

Namun beliau tetap berusaha menulis di tempat-tempat yang memungkinkan dengan
arang. Beliau tulis surat-surat dan buku-buku dengan arang kepada sahabat dan
murid-muridnya. Semua itu menunjukkan betapa hebatnya tantangan yang dihadapi,
sampai kebebasan berfikir dan menulis pun dibatasi. Ini sekaligus menunjukkan
betapa sabar dan tabahnya beliau. Semoga Allah merahmati, meridhai dan
memasukkan Ibnu Taimiyah dan kita sekalian ke dalam surganya.

WAFATNYA

Beliau wafatnya di dalam penjara Qal'ah Dimasyq disaksikan oleh salah seorang
muridnya yang menonjol, Al-'Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah.

Beliau berada di penjara ini selama dua tahun tiga bulan dan beberapa hari,
mengalami sakit dua puluh hari lebih. Selama dalam penjara beliau selalu
beribadah, berdzikir, tahajjud dan membaca Al-Qur'an. Dikisahkan, dalam tiah
harinya ia baca tiga juz. Selama itu pula beliau sempat menghatamkan Al-Qur'an
delapan puluh atau delapan puluh satu kali.

Perlu dicatat bahwa selama beliau dalam penjara, tidak pernah mau menerima
pemberian apa pun dari penguasa.

Jenazah beliau dishalatkan di masjid Jami'Bani Umayah sesudah shalat Zhuhur.
Semua penduduk Dimasyq (yang mampu) hadir untuk menshalatkan jenazahnya,
termasuk para Umara', Ulama, tentara dan sebagainya, hingga kota Dimasyq
menjadi libur total hari itu. Bahkan semua penduduk Dimasyq (Damaskus) tua,
muda, laki, perempuan, anak-anak keluar untuk menghormati kepergian beliau.

Seorang saksi mata pernah berkata: Menurut yang aku ketahui tidak ada seorang
pun yang ketinggalan, kecuali tiga orang musuh utamanya. Ketiga orang ini pergi
menyembunyikan diri karena takut dikeroyok masa. Bahkan menurut ahli sejarah,
belum pernah terjadi jenazah yang dishalatkan serta dihormati oleh orang
sebanyak itu melainkan Ibnu Taimiyah dan Imam Ahmad bin Hambal.

Beliau wafat pada tanggal 20 Dzul Hijjah th. 728 H, dan dikuburkan pada waktu
Ashar di samping kuburan saudaranya Syaikh Jamal Al-Islam Syarafuddin. Semoga
Allah merahmati Ibnu Taimiyah, tokoh Salaf, da'i, mujahidd, pembasmi bid'ah dan
pemusnah musuh. Wallahu a'lam.

Dinukil dari buku: Ibnu Taimiyah, Bathal Al-Islah Ad-Diny. Mahmud Mahdi
Al-Istambuli, cet II 1397 H/1977 M. Maktabah Dar-Al-Ma'rifah–Dimasyq. hal.
Depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar