YUK BELAJAR

Selasa, 29 Mei 2012

PENILAIAN DIRI

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar ungkapan, “diatas langit masih ada langit”. Tanpa kita sadari bahwa ungkapan ini mengandung makna ambigu. Diatas langit masih ada langit, maksudnya bahwa kita manusia tidak boleh merasa menjadi yang terbaik di dunia ini, sebaik apapun kita pasti ada yang lebih baik lagi daripada kita.
Tapi di lain makna, bahwa memang di atas langit memang terdapat beberapa langit lagi. Kata diatas langit masih ada langit ini saya sandarkan kepada penilaian diri manusia. Dimana dalam diri manusia terdapat rasa sombong, yaitu merasa lebih baik daripada orang lain. Tanpa kita pungkiri bahwa terkadang kita sebagai manusia haus akan pujian dan rasa sombong. Rasa sombong akan status sosial dan rasa akan lebih baik daripada orang lain.
Memang dalam kehidupan ini manusia selalu berkompetisi. Kompetisi dalam hal duniawi maupun akhirat. Dan ini sangat di anjurkan, baik dilihat dari segi IPTEK maupun agama. Dalam segi IPTEK kompetisi diharapkan dapat menemukan hal baru, seperti penemuan baru yang dapat mempermudah pekerjaan manusia di dunia. Dalam segi agama terutama ajaran Islam disebutkan bahwa umat islam harus berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan. Qs, Al-Baqarah ayat 148 Artinya : Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Kata kompetisi membuat orang selalu berlomba-lomba ingin menjadi yang terbaik. Keinginan menjadi yang terbaik memang mendapat nilai plus dimata manusia. Tidak hanya manusia, Rabbunallah pun menjanjikan yang terbaik untuk hamba-hamba yang terbaik. Keinginan ingin menjadi yang terbaik memang perlu, tapi kita sebagai manusia tidak berhak menilai diri sendiri, dan menganggap diri sendiri adalah yang terbaik. Karena kita sudah bahas diatas bahwa diatas langit masih ada langit.
Dan di agama islam kita tidak diperbolehkan untuk merasa lebih baik daripada orang lain, meskipun orang tersebut banyak melakukan maksiat atau sebagainya. Karena dalam hidup ini manusia itu cendrung selalu berubah, dari baik ke buruk atau sebaliknya. Makanya Rosul menganjurkan kita untuk berdoa “ Ya Muqhallibal Qulub Sabbit Qulubana alaa dinika wa alaa thaatika” Apalagi merasa diri sendiri adalah yang terbaik. QS. Al-A'raaf [7] : ayat 12 Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". Di ayat ini dapat kita tarik hikmah, bahwa iblis memiliki sifat sombong, yaitu merasa lebih baik daripada manusia. Jadi jika kita merasa lebih baik daripada orang lain tentu ini sangat dilarang, karena ini merupakan sifatnya iblis. Nauzubilllah min dzalik
Lalu apakah merasa lebih rendah daripada orang lain dianjurkan? Ini satu pertanyaan bagi kita-kita yang selalu merasa rendah daripada orang lain. Merasa lebih rendah daripada orang lain berarti kita tidak mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepada kita. Karena kita malu akan diri kita yang telah Allah tetapkan. Rasa lebih rendah dari pada orang lain ini biasa di sebut minder. Minder hanya menyakiti diri sendiri, lebih baik kita mensyukuri yang Allah berikan, sehingga kita bisa berbuat sesuatu tanpa beban. Jadi pembaca penilaian diri yang baik menurut penulis adalah berusaha sekuat tenaga untuk berbuat lebih baik daripada orang lain, tanpa merasa lebih baik daripada orang lain. wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar